“Kita sadar, hutan dan lahan gambut Muba seluas 694 ribu hektare adalah paru-paru dunia. Sekali terbakar, bukan hanya Muba yang terdampak, tetapi juga Palembang, Jambi bahkan negara tetangga,” ungkapnya.
Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Muba menargetkan penurunan luas karhutla minimal 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebagai langkah menuju Muba bebas asap.
Untuk mencapai target tersebut, Bupati Toha menetapkan tujuh arahan prioritas, yakni sinkronisasi satgas di semua tingkatan, pembagian tugas pengendalian karhutla secara menyeluruh, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, optimalisasi alat pertanian untuk mendukung pemadaman, penguatan sarana dan personel pemadam perusahaan, aktivasi seluruh posko kebakaran, serta pemanfaatan dana desa untuk mendukung pengendalian karhutla melalui program satu desa satu pompa.
Secara khusus, Bupati juga meminta perusahaan perkebunan dan kehutanan agar lebih aktif dalam membantu upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di wilayah sekitar konsesi.
“Jangan hanya memadamkan api di dalam konsesi. Begitu ada asap di desa sekitar, harus langsung bergerak. Pencegahan dan gotong royong yang kita lakukan selama ini harus menjadi role model nasional,” katanya.
Sementara itu Kalaksa BPBD Muba Marko Susanto SSTP MSi menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Muba telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Karhutla Tahun 2026 melalui Keputusan Bupati Musi Banyuasin Nomor 264/KPTS-BPBD/2026. Kebijakan tersebut didasarkan pada prakiraan BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan yang memprediksi awal musim kemarau dimulai pada dasarian ketiga Mei 2026 dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Selain itu, sifat hujan diperkirakan normal hingga di bawah normal, disertai potensi hari tanpa hujan lebih dari 20 hari berturut-turut pada wilayah gambut di Kabupaten Musi Banyuasin.
Lanjutnya, mengingatkan bahwa pengalaman karhutla pada tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak. Pada tahun 2024, luas karhutla di Muba mencapai 4.036 hektare atau sekitar 26 persen dari total luas lahan terbakar di Sumatera Selatan. Namun berkat sinergi seluruh pihak, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 986 hektare pada tahun 2025.
“Alhamdulillah pada tahun 2025 luas lahan terbakar berhasil turun secara signifikan. Namun angka itu masih cukup tinggi sehingga tidak boleh membuat kita lengah,” katanya.
Usai apel, dilaksanakan penandatanganan Komitmen Sinergi Penanggulangan Karhutbunlah Tahun 2026 oleh unsur Forkopimda, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan yang mengusung tema “Muba Siaga, Bebas Asap 2026” menuju Muba Maju Lebih Cepat tersebut kemudian ditutup dengan peninjauan sarana dan prasarana penanggulangan bencana yang telah disiagakan untuk menghadapi musim kemarau tahun ini.
