Jakarta, 31 Desember 2025 – Pembangunan Jembatan P6 Lalan, Musi Banyuasin kini memasuki fase krusial yang menuntut kepastian pendanaan serta kejelasan tanggung jawab dari seluruh pihak terkait. Dalam situasi ini, Asosiasi Pengguna Alur Sungai Lalan (AP6L) menegaskan komitmennya untuk memastikan pembangunan tetap berjalan secara berkesinambungan dan tidak terhenti.
AP6L telah berperan aktif dengan kontribusi sebesar Rp33,4 miliar untuk mendukung pembangunan Jembatan P6 Lalan. Sementara itu, PT Asia Mulia Transpasifik (AMT) sebagai pihak penabrak jembatan memiliki kewajiban pembiayaan sebesar Rp40,8 miliar. Namun hingga kini, realisasi pembayaran dari AMT baru mencapai Rp16,5 miliar, sehingga masih terdapat sisa kewajiban yang cukup besar dan berpotensi menghambat kelancaran penyelesaian pembangunan.
Langkah Konkret Menjamin Keberlanjutan
Untuk menjaga keberlangsungan pekerjaan kontraktor, AP6L telah menyiapkan dana talangan sebesar Rp13,4 miliar yang berasal dari perusahaan komoditas tambang. Dana ini akan menjamin kelancaran pekerjaan selama tiga bulan ke depan. Selain itu, AP6L juga memastikan pembayaran kontraktor untuk tujuh bulan berikutnya melalui bank garansi yang akan diterbitkan paling lambat pada 31 Januari 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab AP6L, meskipun kewajiban utama pembangunan bukan sepenuhnya berada pada asosiasi.
Sekitar 75% pendanaan pembangunan saat ini berasal dari perusahaan-perusahaan komoditas tambang yang telah menalangi biaya pembangunan. Sebagian pengguna alur dari komoditas lain hingga kini belum berkontribusi. Di luar pendanaan, perusahaan pengguna alur juga memberikan bantuan sosial berupa penyeberangan dan transportasi darat alternatif dengan total nilai Rp5,35 miliar, guna memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar.
