Perjuangan keras Tasya berbuah manis. Di bawah asuhan NPCI Sumsel, teknik dan mentalnya kian matang. Hasilnya, ia meraih medali emas di Peparnas Papua 2021 dan kembali mengulang prestasi gemilang itu di Peparnas Solo 2024.
Kini, olahraga bukan lagi sekadar kegiatan, tapi bagian dari jati dirinya.
“Jadi atlet itu ternyata asik. Bisa kenal banyak teman dari berbagai daerah. Dulu saya insecure, tapi sekarang saya lebih percaya diri dan menikmati hidup,” tutur Tasya yang juga memiliki hobi melukis desain busana.
Di Peparprov Sumsel V kali ini, Tasya bertekad memberikan hasil terbaik bagi daerah kelahirannya, Musi Banyuasin. Ia sadar langkahnya masih panjang, dan mimpinya semakin tinggi — bergabung di Pelatnas dan mengibarkan Merah Putih di kejuaraan internasional.
“Tasya ingin bergabung di Pelatnas, mengibarkan bendera merah putih di kejuaraan internasional,” ujarnya mantap.
Sebagai salah satu ikon muda olahraga disabilitas Sumatera Selatan, Tasya tak lupa menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi sesama penyandang disabilitas.
“Tetap semangat, tidak usah malu, dan terus berjuang. Di saat ada kemauan, di situ pasti ada jalan,” katanya penuh semangat.
Malam pembukaan Peparprov Sumsel V bukan sekadar ajang seremonial olahraga. Ia menjadi simbol harapan dan semangat baru bagi ratusan atlet disabilitas yang ingin mengukir prestasi.
Di antara gemerlap lampu malam itu, cahaya obor yang dibawa Tasya seolah menjadi simbol tekad: bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan luar biasa.
Peparprov Sumsel V tahun ini mempertandingkan 13 cabang olahraga, yaitu tenpin bowling, para catur, para renang, para badminton, para panahan, goal ball, voli duduk, anggar kursi roda, para tenis meja, para angkat berat, para atletik, judo tuna netra, dan para taekwondo.
